The Disciplined Woman: Cultivating Fruitful Time with the Lord

September 27th, 2007 by notmyown
The Disciplined Woman:
Cultivating Fruitful Time with the Lord
Janelle Bradshaw
I’m liking this "highly effective" thing. I like to think of myself as "highly
effective." But when I dare to look at the seven habits (check out "Joy
of the Disciplined Woman
") I change my mind. Don’t get me wrong, I’m
effective at some things…eating, sleeping, sitting, and how about
playing? Wait…I think I hear my mom coming…just a second…oh, sorry
everyone, I’m supposed to be writing a serious article here. We are gonna have
to save the rest of my highly effective activities for another time. 

Okay, serious start…It’s time for Effective Habit #2: She
maintains the practice of the spiritual disciplines
.

Two years ago, I had the huge privilege of leading a discipleship group full
of godly women in which we took nine months to study biblical womanhood in a
more in-depth way. We read many books and articles and listened to lots of
messages. We had discussions and even took a personal retreat. We also kept
track of our personal practice of the spiritual disciplines. We wrote down how
long we spent with the Lord each day, and at each meeting we went around the
group and read these times aloud. 

At the end of the year, I had everyone fill out an evaluation form — to find
out what had been most helpful and what could be improved upon. What was the
answer to the "most helpful" question on almost every form? I wouldn’t have
guessed, but it was our little practice of keeping track of our times with the
Lord. 

You see, the spiritual disciplines were reaping big fruit in the lives of
these women, some of whom had never had a consistent practice of seeking the
Lord. But after doing so for nine months, they were different. The gospel had
become more amazing to them. Their desire to fight sin had grown. They had
experienced God’s amazing promise: that He will draw near to us when we draw
near to Him (James 4:8).

The practice of the spiritual disciplines is a little like planting a seed.
(Please ignore the fact that anything I have ever planted has died, and try to
stick with me here.) You plant a tiny seed in the dirt and you
wait…water…wait… water. (I know that there is a little more to it than
that, but you get the picture). It takes time. The plant only grows after
consistent, faithful tending to the seed. 

I met with the Lord this morning. I’m looking pretty much the same as I did
yesterday (enjoying a huge glazed donut). My husband, Mike, hasn’t told me that
I look more holy than the day before. But as I read the Word and prayed this
morning, I was watering. Lord willing, I will wake up tomorrow morning and do
the same thing. Morning after morning of watering and waiting, and I will
eventually see a little green thing sticking up out of the dirt. Growth! More
watering, more waiting — more growth! 

Is seeking the face of God a consistent practice in your life? If not, then
may I encourage you to carefully consider how to begin. Start small. Set
reasonable goals. None of this, "Tomorrow morning is the day that I start waking
up at 2 a.m. and spend 3 hours in prayer and Bible study." But rather, What
does faithfulness look like for you right now? What time do you need to wake up
to make it happen? How long do you need to spend?
Get specific. Get
radical. Consider, like my discipleship group, asking someone to hold you
accountable. Open up this area of your life to another and receive the grace of
God that accompanies humility. You will soon reap a precious harvest — growth
in godliness.

Rebus Telor

June 20th, 2007 by notmyown

Hari ini kita buka 1 care group baru di sekolah BLCU gedung sushe 17. Gw excited banget nih dengan teman2 baru yang excited juga untuk datang ke Care group ini. Ada kepikiran untuk melakukan sedikit hal berbeda hari ini dengan pembukaan CG baru. Dan akhirnya menemukan ide untuk merebus telor dan pengen banget untuk bagi2in ke teman2 yang dateng nantinya. Jadi gw udah siap2in dulu telornya. Beli 10 biji tapi udah pecah 2 diperjalanan pulang dari pasar. Hiks..tapi ga papa, masih ada 8 telor, mudah2an cukup untuk semua orang yang dateng termasuk gw juga pengen nikmati makan telor rebus sama2.

Jadi sesampai dikamar, gw langsung rebus dan terus mendapatkan hikmat yang  practical sekali. Gw nge-rebus 8 telor dengan 2 kali rebus. Aku nge-rebus telor dengan teko air bukan dengan panci. Maklum di cina belom punya panci buat masak-masak. Tapi Tuhan mengajarkan sesuatu hari ini.

Ronde pertama merebus 4 telor. Bagaimana caranya gw merebus telor dengan kapasitas yang kecil (cuman dengan ‘shui hu’ bahasa cinanya, teko listrik buat masak air panas). Pertama masak airnya dulu trus air udah mateng baru masukin telor mentahnya. Setelah dimasukin telornya, air nya di rebus lagi jadi kan sama tuh dengan cara masa di panci air nya tetep di rebus gitu. Nah terus, gw peratiin terus tuh telor. Baru aja dimasukin kedalam shui hu nya kok bisa udah pecah ya? Ada yg bergaris lurus panjang pecahnya, ada yang kecil banget. Jadi kan telor putihnya keluar dikit2 gitu. Tapi ya gw ngomong sendiri, kok susah nya mau rebus telor supaya perfect gitu ga ada cacatnya. Padahal ini kan mau buat surprise-in anak2 CG gitu, tapi kok ga bisa sempurna rebusnya.

Hmm terus belajar kompromi sama Tuhan, ya udah lah Tuhan abis mau gimana lagi ga tau lagi caranya gimana supaya ga cacat gitu loh. Gw udah pelan2 taro di dalam shui hu supaya ga kebanting telornya. Ya mungkin telornya jadi cacat karena tangan gw takut kena panas gitu pas masukin telornya ke airnya jadi masih rada tinggi ngelepasin telornya. Ya gitu deh…jadi tetep aja di masak telornya. Bener 2 dari 4 telor itu ada cacatnya.

Ronde kedua rebus 4 telor lainnya. Dan kali ini gw pengen hati2 lagi taro telornya. Tapi telor pertama yang gw taro gagal. Padahal udah taro lebih pelan2 loh daripada ronde pertama, tapi kok masih pecah ya? Langsung deh itu telor putihnya keluar. Ohh mannn kenapa kok bisa gitu sih..udah pelan2 juga masih sama hasilnya. Then..terpintas 1 teknik supaya telornya ga pecah hmm tau gimana caranya? Dengan mulut teko yg kecil gitu dan air yang panas, gimana caranya supaya telornya ga pecah? Tebak dulu sebelom baca lebih lanjut okkk!!!!

Hmm gimana caranya ya….????

Gimana ya????

ernyata kutemukan 1 sendok dan hmm mungkin dengan gw taro telor nya satu2 di sendok dan gw arahkan turun ke air yang panas itu dan perlahan-lahan taro telornya di dasar shui hu itu, pasti ga pecah deh. Eh ternyata bener lohhh ga pecahhh wahhhh senenggg banget ….akhirnya 3 dari 4 telor ronde kedua ga ada cacatnya. Seneng donk akhirnya setelah sekian lama rebus telor ada cacatnya dan sekarang menemukan satu cara supaya telornya tetep bulat dan tidak bercacat. Jadi lain kali udah tau deh tekniknya.

Ehh kurang dari 3 menit gitu deh something happen. Tau ga napa??? Itu air dalam shui hu nya meluap. Airnya ngeluap keluar sewaktu di masak lagi airnya beserta dengan 4 telor didalamnya. Kaget banget gw. Selama ini masak telor ga pernah sampe meluap gitu tuhhh. Wahh langsung deh bereaksi untuk mencegah hal2 yang tidak diinginkan. Gw cepet2 matiin shui hu nya dan lap2in deh air yang tumpah itu.

Hmm tau ga itu artinya apa? Kalo kita melakukan yang terbaik untuk Tuhan seperti halnya gw mau itu telor tidak bercacat saat direbus dan mengusahakan untuk mencari cara memperbaikinya kita ini malah di berikan berkat yang sangat amat berlimpah loh. Terbukti prakteknya, kayak itu air dari shui hu nya meluap keluar dan membasahi sekitarnya dimana itu shui hu ditempatkan - lantai basah dan juga shui hu nya sudah pasti duluan basah. Bener kan? Kalo kita merindukan melakukan yang terbaik buat Tuhan, memberikan yang terbaik, Tuhan tau kita berusaha (seperti udah beberapa telor yang pecah, itu ga papa, tetep berusaha) dan akhirnya gw mendapat hikmat untuk merubah cara hal2 yang biasanya kita lakukan itu. Dengan instant nya merubah semuanya. Kita ini di berkati dulu dan akhirnya sekeliling kita kebanjiran berkat juga lohhh. Luar biasa hikmatnya dari Tuhan itu. Sampe geleng2 gw.

Terus gw pikir waduhh ini tadi gw masukin rasanya udah bisa 3 telor yg sempurna, ehh ternyata air meluap, gw sempet berfikir, bagaimana nasibnya si telor itu ya yg udah dengan susah payah gw usahakan dengan berhati2, apa telor2 itu akan menjadi cacat juga? Karena airnya ‘belebeb belebeb’ sampe berbusa gitu.

Ternyata gw salah dengan berfikir seperti itu. Gw buang airnya dan ngecek telor2 nya. Dan amazingnya ga disanggka tetep 3 telor itu masih dalam keadaan sempurna. Tidak bercacat. Nah hikmat apa yang gw dapetin dari kisah terakhir ini?

Sering kali, kita melihat keadaan seperti yang kita liat dengan mata jasmani kita sendiri. Kita ga tau apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Sebelom air meluap dari shui hu nya, shui hu nya melangalami goncangan dulu donk (yg bunyinya grudukkk grudukkk). Ini menggambarkan goncayangan-goncayangan dalam hidup yang datangnya tidak terduga/ dengan tiba-tiba. Siapa sangka masak telor udah beberapa kali dan tidak terjadi apa2 dan kali ini masak bisa ada kejadian seperti ini. Ya kan??? Sama dengan kehidupan kita yang dengan tak terduganya hidup kita di goncangkan dengan berbagai macam masalah – keluarga, sekolah, masa depan, pasangan hidup, keuangan, bergaulan/persahabatan, pelayanan, diri sendiri, dll dengan tiba-tiba datang. Justru kita biarkan Tuhan bekerja melalui goncangan-goncangan yang kita alami itu. Tuhan tidak pernah tinggalkan, justru melalui pengalaman itu, Tuhan mau godok (masak) kita supaya kita lebih dewasa, mengalami perubahan yang baik. Jika kita teguh dan membiarkan Tuhan dengan bebas melakukan hal2 untuk kebaikan kita, kita akhirnya mendapatkan kelimpahan berkatnya juga. Karena perubahan didalam Tuhan pasti mendatangkan berkat/kebaikan buat sekeliling kita. Tidak terlupakan, diri kita sendiri sudah pasti terberkati terlebih dulu sebelom orang lain. Dan hidup kita yang jika dari awalnya dipimpin Tuhan untuk disempurnakan, hasilnyapun akan tetap baek walaupun kita mengalami goncangan-goncangan itu. Inget cerita telor rebus diatas – telornya masih bulat dan tidak bercacat setelah kejadian air meluap yang dikiranya udah pasti hancur berantakan. Kita kira, kita akan menjadi buruk dari yang kita harapkan karena goncangan-goncangan itu dan tidak ada harapan lagi. Tapi jika kita menabur yg baek dari awalnya, kita akan menuai baek pula.

‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab mereka juga di tentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara’ – Roma 8:28

Tuhan memberkati.

© s s s s s s 20 June 2007 3:10PM

Tuhan baaaeeeek bggtttt

June 15th, 2007 by notmyown

Tuhannnnn

Thank you banget kalo aku hari ini boleh melihat kuasa tanganMu yang begitu nyata. MataMu selalu menjagaiku seperti Bapa yang selalu memperhatikan kemana anaknya pergi supaya ia tidak hilang ataopun terjatuh tersandung.

Itulah yang aku alami hari ini.

Hari ini aku mau pergi bank setelah sekolah tadi sekitar jam 12.30 siang gitu. Dan aku sedang naek sepedaku untuk pergi ke bank. Ada 1 laki2 yg juga naek sepeda ada di belakang sampingku dan dia mulai mendekati ku dan tiba2 sudah berada disamping. Dan dia berbicara denganku dengan bahasa chinese. ‘Itu roda sepeda loe musti di liat dulu. Keliatannya rada ongleng gitu.’ Sebenernya memang sudah berasa rada2 aneh sih itu roda depan sepedaku. Tapi ya aku pikir memang gitu kali ya dan ga kepikiran apa2 sih sebenernya. Terus aku disuruhnya minggir bentar dan parkir sepeda di trotoar jalan. Dia itu sampe2nya bawa tang dan sarong tangan bengkel gitu loh untuk buka baot gitu. Dan dia cek roda sepeda depanku. Dan ternyata garpu penyanggal roda dan udah pendek, bengkok pula dan dikit lagi keliatannya itu baot makin lama diayunkan sepedanya, makin cepet molor dan akan tidak bisa menjanggel gagang sepeda dan rodanya lagi. Dan trus itu cowok yg kira2 sekitar late 20s or awal 30s gitu deh (biasa orang CK kadang boros mukanya hehe alias keliatan tua tapi umur bisa muda gitu) ngomong, ‘ wah ini bahaya sekali, kalo sampe loe naek sepeda dan baotnya ini copot, rodanya bisa gelinding dan gagangnya sepeda bisa  copot jadi dari tempatnya dan itu bahaya sekali. Apa lagi kamu cewek!’ Ya begitu kira2 yg dikatakan dengan keterbatasan chinese aku.

Trus apa yg terjadi dengan garpu roda sepeda yang sudah pendek dan baot udah putus gitu, ternyata dia suruh aku beli garpu dan kasih tau aku nama chinesenya ‘garpu’ (ga inget jg sih sekarang nama chinesenya apa). Disuruh beli yg deket dari kita parkir sepeda. Tapi aku bilang ga tau lah soalnya masa aku naek sepedanya dia untuk pergi beli, dan aku jg ga tau pasti tokonya dimana untuk beli walaupun udah di tunjukin direksinya. Tapi ga srek aja kalo aku yg pergi beli sparepartnya gitu. Jadi dia yg pergi beli sendiri buat aku. Beberapa menit kemudian dia balik dari beli garpu dan baotnya, dia pasangin jg sekalian.

Wah jadinya rodanya udah ga ongleng lagi deh. Kemudian aku tanya kenapa dia bisa liat gitu sih. Ya dia keliatan aja sepeda aku roda depannya goyang2 gitu dan dia juga tukang bengkel motor sebenernya. Trus aku harus bayar donk itu garpu dan baot yg dibeli dia. Ternyata aku bayar 80kuai. Hmm rada mahal jg ya dipikir2 dengan harga 2 baot yg 1 nya itu 20kuai loh. Garpunya 38 kuai. Terus karena aku ga ada duit kecil nya kasih lebih 2 kuai hehe.

Waktu tau musti bayar berapa sama itu orang yg perbaiki sepeda aku, aku mikir2 ” kok mahal ya Tuhan, garpu gitu doank 38kuai apalagi baotnya yg lebih kecil sizenya tapi 20kuai satuannya. Busyet deh..apa dia ambil untung juga ya?!?” bertanya2 deh hehe..abis di china kalo spend duit buat sepeda ga segitu mahal deh.

Tapi buat apa mikirin mahalnya biaya sparepart sepeda itu. Aku pasti banget itu pertolongan Tuhan dan Ia besertaku kemana aku pergi. Kita kan sering berdoa supaya Tuhan terus tutup bukus setiap dari kita dengan kuasa darahNya kemana saja kita pergi. Dan aku ngerasain sendiri tadi. Wah Tuhan itu sebenernya yg kirim penolong buat bantuin dan nyelamatkan ketika bahaya mencoba mendekat pada anak2Nya yg mengasihi Dia. Coba kalo tadi aku naek sepedanya kenceng banget or kalo agak lama dalam perjalanan naek sepedanya (kan tetep diayunkan terus gitu), itu baot bisa copot dari cantolan garpunya dan dienkkkkkk itu roda depan bisa gelinding sendiri dan gagang sepeda bisa tiba2 jatuh, aku kaget dan mental semua ga siap (ga nyangka), badan bisa terlempar juga kali ya kalo ngebut bgt naek sepedanya, dan aku bisa gubrak jatuh ga tau kelempar berapa jauh. Wah wah Tuhan yang aku sembah itu DASYAT banget ya. Dengan kuasanya Dia mengirim penolong untuk perbaiki sepedaku. Kan ga ada yg tau kalo tiba2 perjalanan ke bank ataopun perjalanan pulang itu roda bisa copot dari tempatnya. Tapi Tuhan yg tau deh. Dia menyelamatkanku dari mara bahaya.

Tuhan baik bgt yaaaaa.. Thank youuu Tuhannn Yesusssskuuuuuu….

Thank you banget klo aku bisa belajar dari pengalaman ini dan mengerti lebih lagi betapa sayangnya Engkau padaku.

Tuhan membuat segala sesusatu untuk tujuannya masing-masing (Amsal 16:4)

Tuhan baekkkk bgttt …. Susan sayang sama Tuhan Yesus

(c) s s s s s s Jumat 15 June 2007
Written on Saturday June 16 2007 1.30AM